• Pilih Aksi Bakar-bakar

    MADIUN, Madiunonline.com AKSIĀ berbeda dilakukan sejumlah petani di dekat lokasi wisata Grape Kecamatan Wungu. Mereka beramai-ramai membakar tanaman padi yang mengering akibat serangan wereng.Seperti dilakukan Tukul Supeno yang membumihanguskan padi berusia 80 hari yang ditanam di sawahnya. Tukul mestinya sudah panen padi bulan ini, namun serangan wereng mengubur impiannya. ”Semua usaha sudah saya lakukan,tetap saja werengnya tahan sama obat. Terpaksa padinya dibakar,”ujar Supeno.

    Sebelum melakukan pembakaran, Supeno sempat ingin memanfaatkan tanaman padi sebagai pakan ternak sapi peliharaannya. Langkah ini dilakukannya untuk menekan kerugian yang dideritanya. Sayangnya,hewan ternak alergi terhadap wereng hingga batang padi mangkrak. ”Kalau bisa jadi pakan sapi.Ternyata sapinya tidak mau,”terangnya.

    Supeno semakin nelangsa karena akibat wereng harus merugi jutaan rupiah.Dia bingung dengan biaya tanam yang akan dilakukannya.Sebab uang tabungannya sudah habis untuk membiayai pengobatan padinya yang terserang hama. Kondisi itu diperparah dengan musim pendaftaran sekolah. ”Sudah tidak punya uang. Apalagi anak-anak juga harus bayar uang sekolah. Saya berharap, pemerintah lebih peduli wong cilik dan bisa memberi bantuan,”terangnya.

    Dalam kunjungannya di Desa Kepel Kecamatan Kare beberapa waktu lalu,Bupati Madiun Muhtarom mengakui banyaknya tanaman padi di wilayahnya yang terserang wereng. Akibatnya, harga beras di pasaran mengalami kenaikan.Dia menganjurkan petani untuk membabat tanaman padinya yang terserang wereng hingga habis. Pasalnya, proses kembang biak hama wereng cukup cepat dan banyak. ”Telur wereng yang menempel di batang padi banyak. Kalau tidak dibabat, werengnya tidak bisa hilang. Petani yang padinya terkana wereng juga harus melapor ke petugas pertanian agar bisa diberi bantuan obat serta bibit, ” jelas Muhtarom.

    Banyaknya wereng yang menyerang padi bukan tanpa sebab. Menurut Muhtarom, kondisi ini dipicu langkah petani yang memperkosa lahannya selama satu tahun penuh dengan menanam padi. Dia beranggapan, siklus wereng bisa diputus jika petani menaati pola tanam. ”Harusnya, pakai pola padi-padi-palawija. Jangan sepanjang tahun padi terus. Kita harus memutus siklus wereng dengan menanam tanaman yang berbeda,” terangnya


    Share and Enjoy:
    • Twitter
    • RSS
    • Google Bookmarks
    • LinkedIn
    • Facebook
    Print halaman ini Print halaman ini

    Tags: ,
    Statistik iklan: 189 kali total dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Komentar Pembaca



* Madiun Online menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Madiun Online berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.